Terima kasih, berkunjung di Web-blog kami. Campus Forex merupakan komunitas trader forex di Klaten - Yogyakarta yang mulai trading forex sejak tahun 2006 Semasa menjadi Wakil Pialang di Perusahaan Broker Forex Jakarta.

Rekan trader, Saat ini, CampusForex ditunjuk sebagai Official Introducing Office di Perusahaan berskala Internasional, FXDD, Malta Uni Eropa. Liquid Markets Ltd is terdaftar di Cyprus Investment Firm (CIF) dan teregulasi di Cyprus Securities and Exchange Commission (CySEC) dengan nomor lisensi : 103/09. Anda akan mendapatkan kenyamanan dalam bertransaksi dengan PerusahaanTeregulasi Resmi, Dengan menggunakan Platform yang berdasarkan Transparansi, Kecepatan dan Keakuratan.

Because, execution is everything... Campus Forex Yogyakarta, Tidak sekedar berbagi, Bukan Sembarang Kisah...

Money Management

Friday, 17 September 2010

Money Management / Risk Reward Ratio

Hati-hati, uang anda bisa menguap begitu saja jika anda tidak memperhatikan manajamen resiko trading. Ingatlah bahwa forex trading tergolong sebagai investasi yang sifatnya high risk. Artinya forex trading tergolong memiliki resiko tinggi. Salah satu yang tertinggi diantara instrumen investasi keuangan lainnya.

Faktor resiko yang harus Anda ketahui sebelum memulai forex trading :
  1. Memiliki kemungkinan kehilangan dana dengan cepat.
  2. Arus dana sangat cepat (very liquid)
  3. Tidak ada metode trading yang dapat menjamin Anda pasti untung 100%. Ada banyak metode trading yang bagus namun tidak ada satu pun yang dapat menjamin untung 100%.
  4. Forex trading bukanlah sebuah “quick rich scheme” yang dapat membuat

Anda kaya mendadak tanpa harus bekerja keras. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Kerja keras merupakan bagian yang tak terpisahkan dari mereka yang mengalami kesuksesan finansial dalam hidupnya. Termasuk  mereka yang sukses melalui forex trading.

Diperlukan kerja keras untuk mempelajari analisa dan perilaku pasar sehingga
kita dapat menebak arah pergerakan harga dengan akurat. Begitu juga
diperlukan mental ekstra ketika hasil trading tidak sesuai dengan yang kita
harapkan.

Tanyakanlah pada trader-trader sukses yang Anda kenal, apakah mereka pernah mengalami jatuh bangun dalam trading mereka. Dan jawabannya hampir pasti adalah “ya”. Kesuksesan hanyalah disediakan bagi mereka yang mau berusaha dan belajar terus menerus meperbaiki dirinya. Nah berkaitan dengan resiko yang harus dihadapi jika kita hendak memulai investasi di forex, diperlukan kiat-kiat khusus untuk memperkecil, atau bahkan membalikkan posisi kita yang tadinya minus menjadi kembali positif dan memperoleh untung.

Berikut beberapa kiat dan manajemen resiko yang bias anda ambil :
  1. Cut Loss
    Merupakan aksi menutup posisi Anda yang berlawanan dengan pergerakan harga pasar. Cut loss digunakan untuk membatasi kerugian yang dialami sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi.

    Sebagai contoh,
    katakanlah kita sedang membuka posisi kita pada GBP/USD Open Buy pada harga 1.8000. Membuka posisi Buy berarti kita mengharapkan harga naik melebihi 1.8000 sehingga kita memperoleh untung. Harapan kita harga bergerak misalnya hingga 1.8100 sehingga kita bisa memperoleh profit 100 point. Namun apa daya, ternyata harga bergerak berlawanan dengan yang kita harapkan. Ternyata harga bergerak turun terus menerus dari 1.8000 menjadi 1.7980 dan masih menunjukkan tendensi turun.

    Nah daripada kita mengalami kerugian lebih lanjut dan akhirnya mengalami margin call maka lebih baik posisi ditutup meskipun kita menanggung kerugian 20 point (1.8000 menjadi 1.7980 = -20 point). Aksi ini dinamakan cut loss yaitu menutup posisi yang merugi guna mencegah kerugian yang lebih besar.

    Detail Kasus Lainnya:
    Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8850 sebanyak 5 lot. Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa melikuidasi posisinya tersebut pada 1.8900. Oleh karena itu dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900.

    Ternyata harga bergerak turun tak menentu. Dengan segala pertimbangan, Tuan A ingin menutup begitu saja posisinya pada 1.8825. Sehingga Tuan A rugi 25 point (1.8825-1.8850 = -0.0025)
    Maka:
    Profit/Loss = (1.8825 - 1.8850) x 100000 x Jumlah lot = -0.0025 x 100000 x 5 = - $125 (Tuan A mengalami kerugian $125)
  2. Switching
    Aksi ini mirip dengan cut loss, namun bedanya setelah menutup posisi kita yang merugi, kita membuka posisi baru dengan arah yang sama dengan pergerakan harga pasar.

    Pada kasus yang sama dengan cut loss diatas, maka kita menutup posisi kita di 1.7980 lalu kita membuka sebuah posisi baru Open Sell karena harga cenderung mengalami penurunan. Dengan demikian jikalau harga terus turun katakanlah mencapai 1.7900 maka secara keseluruhan kita mengalami loss 20 point namun memperoleh profit sebesar 80 points (1.7980-1.7900 = 80) sehingga total kita masih memperoleh profit 60 points.

    Contoh kasus
    Mr. X memperkirakan harga akan NAIK. Jadi untuk mendapat keuntungan dia memutuskan membeli (Buy) dengan harapan harga akan naik sehingga dia bisa menjual dengan harga yang lebih mahal dan mendapat selisih Keuntungan. Tapi ternyata bukannya naik, malah TURUN harganya.

    Dan setelah analisa ulang, Mr. X berkesimpulan perkiraannya bahwa harga akan naik ternyata SALAH. Jadi apa yang harus dia lakukan??? Daripada melawan harga pasar dan menderita kerugian, lagipula harga akan turun lebih jauh dari sekarang dia memutuskan menutup posisi Buy nya yang merugi dan kemudian membuka posisi baru Sell (dengan harapan harga akan turun). Dan ternyata harga terus turun sehingga dia mengalami keuntungan melebihi kerugian yang diterima di posisi Buy yang dia tutup sebelumnya. Kemudian dia menutup posisi Sell tersebut dan menerima keuntungan.

    Tips Untuk Anda: # Lakukan hanya bila prediksi keuntungan switching melebihi nilai kerugian posisi pertama yang akan ditutup. # Kalau ternyata harga berubah ternyata sesuai dengan prediksi pertama, maka anda akan menderita kerugian 2 kali, yaitu posisi pertama dan posisi kedua juga

    Detail Kasus:
    Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8850 sebanyak 10 lot. Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa melikuidasi posisinya tersebut pada 1.8900. Oleh karena itu dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900. Ternyata harga bergerak turun tak menentu. Dengan segala pertimbangan, Tuan A ingin menutup begitu saja posisinya pada 1.8825. Sehingga Tuan A rugi 25 point (1.8825-1.8850 = -0.0025)

    Maka:
    Profit/Loss = (1.8825 - 1.8850) x 100000 x Jumlah lot = -0.0025 x 100000 x 10 = - $250 (Tuan A mengalami kerugian $250)

    Kemudian Tuan A menganalisa lagi dan memprediksi harga dan diketahui harga akan terus bergerak turun, maka Tuan A membuka posisi Sell sebanyak 10 lot. Tak beberapa lama harga turun. Pada akhirnya Tuan A menutup posisinya pada 1.8740. Tuan A mendapatkan keuntungan 80 point (1.8820 - 1.8740 = 0.0080)

    Maka :
    Profit/Loss = (1.8820 - 1.8740) x 100000 x Jumlah lot = 0.0080 x 100000 x 10 = $800
    Keseluruhan hasil dari dua trading tadi adalah
    Trading I = -$250
    Trading II = $800
    Laba = $800 - $250 = $550
  3. Averaging
    Cara ini memerlukan modal ekstra untuk mempertahankan posisi yang telah kita buka yang ternyata bergerak berlawanan dengan harga pasar. Katakanlah pada kasus yang sama dengan contoh Cut Loss diatas, maka jika kita hendak melakukan aksi averaging maka kita membuka posisi baru namun dalam hal ini tidak seperti switching yang menutup posisi kita yang mengalami kerugian lalu membuka posisi baru yang berlawanan dengan posisi kita yang sebelumnya dengan alasan harga telah bergerak turun. Pada averaging kita tidak menutup posisi kita yang telah dibuka (pada kasus ini Open Buy) lalu bahkan kita menambahinya dengan membuka posisi baru dengan arah yang sama, yaitu Open Buy kembali!

    Mengapa demikian???
    Bukankah kita telah melakukan Open Buy sebelumnya dan mengalami kerugian, lalu mengapa kita melakukan Open Buy kembali? Alasannya sederhana, kita berharap karena harga telah turun maka harga akan kembali naik sehingga ketika kita melakukan aksi Open Buy yang kedua diharapkan harga bergerak naik bahkan melampaui Open Buy kita yang pertama sehingga kita memperoleh keuntungan ganda.

    Contoh Kasus :
    Mr. X memprediksi bahwa harga akan naik maka dia membuka posisi Buy. Namun harga ternyata bergerak turun. Mr. X segera menganalisa lagi dan kesimpulannya harga hanya akan turun sesaat dan akan kembali naik sesuai analisa sebelumnya Dia memutuskan membuka posisi buy baru saat harga turun sehingga ketika harga naik kembali dia bukan hanya memiliki 1 posisi yang profit tapi 2 sekaligus. Ternyata benar, tidak lama kemudian harga naik dan kemudian Mr. X menutup kedua posisi nya tersebut, yang pertama dan yang kedua.

    Detail Kasus:
    Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8850 sebanyak 5 lot. Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa melikuidasi posisinya tersebut pada 1.8900. Oleh karena itu dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900. Ternyata harga terkoreksi dan bergerak turun. Tuan A kembali membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8825 sebanyak 10 lot. Dia juga memasang Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900.

    Lalu tak lama kemudian harga kembali terkoreksi dan menyentuh 1.8900. Dengan demikian Tuan A mendapatkan 2 keuntungan dari 2 posisi yang telah dibuka :
    Posisi I : Profit/Loss = (1.8900-1.8850) x 100000 x 5 lot= $250
    Posisi I = $ 250
    Posisi II : Profit/Loss = (1.8900-1.8825) x 100000 x 10 lot = $750
    Posisi II = $ 750
    Jumlah Profit kedua posisi : $ 250 + $ 750 = $ 1000

Ketiga manajemen resiko diatas sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan. Jadi, betapa sayangnya kita mengalami kerugian hanya karena kita tidak mengetahui hal diatas. Namun apakah dengan mengetahui ketiga manajemen resiko tersebut kita dipastikan tidak pernah mengalami loss?

Jawabannya tentu saja tidak. Kalau Anda cermati, ketiga manajemen resiko diatas bertumpu pada satu hal : kemampuan kita menganalisa pergerakan harga. Ya, memang itulah inti dari forex trading. Manajemen resiko bahkan tidak pernah menjadi efektif apabila kita tidak mampu melakukan analisa dengan benar dan akurat.

Jadi, mengetahui analisa adalah keharusan dalam memulai investasi di forex trading. Masih banyak yang harus dipelajari dalam memasuki dan berinvestasi didunia forex. Kita baru saja mempelajari bagian terluar dari investasi ini. Yang penting Anda belajar dan belajar terus.


Analisa Fundamental

Analisa Fundamental
Dalam melakukan transaksi mata uang tidak terlepas dari kepiawaian kita untuk menganalisis pergerakan index saham tersebut. Analisa ini penting dilakukan untuk menentukan arah pergerakan dari index saham tersebut. Ada dua metode analisa yaitu, analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental adalah analisis terhadap fundamental suatu negara pemilik index saham, untuk index hangseng misalnya, akan dianalisis kondisi ekonomi, sosial dan politik Hongkong. Sedangkan analisis tekninal hanya mengandalkan tren harga kedepan berdasar perkembangan harga masa lalu.


Definisi. Analisis fundamental adalah analisis yang didasarkan pada situasi dan
kondisi ekonomi, politik dan keamanan secara global dan juga tiap-tiap negara yang
mengeluarkan Index Saham.

Prinsip. Analisa fundamental membutuhkan kelihaian seni tersendiri untuk
memperhitungkan penting tidaknya suatu informasi menjadi faktor yang akan
berpengaruh terhadap fluktuasi nilai tukar suatu mata uang. Berikut adalah prinsip-prinsip
analisis fundamental:
  1. Reaksi berantai. Semakin besar dampak berantai suatu informasi, semakin besar pengaruhnya terhadap nilai index saham.
  2. Jarak informasi. Semakin dekat informasi dengan suatu index saham, semakin besar pengaruh informasi tersebut. Misalnya, informasi yang berasal dari dalam negeri Indonesia akan lebih besar pengaruhnya terhadap nilai IHSG dibanding informasi dari luar negeri.
  3. Sumber berita. Semakin resmi sumber berita, semakin kuat pengaruhnya terhadap nilai index saham.
  4. Jenis berita. Berita ekonomi lebih kuat pengaruhnya terhadap index saham suatu negara dibanding berita lainnya, seperti politik, sosial atau budaya.

Prosedur. Segala informasi—kadang-kadang juga hingga hal-hal yang tidak
rasional—harus dikumpulkan, guna dijadikan alat untuk memprediksi pergerakan index
saham. Pada intinya, informasi tersebut akan mempengaruhi supply dan demand atas
index saham suatu negara.

Metode. Metode melakukan analisis fundamental adalah dengan terus-menerus mengupdate informasi yang ada. Mengenai media informasi tersebut tergantung, ketersediaan yang ada di tempat kita. Namun untuk trading index saham, informasi ini akan selalu tersedia di menu news.

Analisa Teknikal

Analisa Teknikal 
Analisis Teknikal merupakan sebuah analisis tentang pergerakan harga mata uang yang didasarkan dari pergerakan harga mata uang itu sendiri di masa lampau.
Analisa teknikal mempunyai 3 prinsip dasar pemikiran:
  1. Market Price Discount Everything
    Yaitu harga yang tercermin dari chart atau grafik telah menggambarkan semua faktor yang mempengaruhi pasar.
  2. Price Moves in Trend
    Yaitu pergerakan harga tidak bergerak secara acak melainkan berlangsung dalam satu pola (trend) tertentu dan akan terus berlangsung sampai ada tanda-tanda bahwa pola pergerakan ini berhenti dan berbalik arah.
  3. History Repeats it Selfs
    Yaitu ada kecenderungan kuat bahwa perilaku para investor dan pelaku pasar di masa lalu adalah sama dengan masa kini dalam menyikapi berbagai informasi yang mempengaruhi pasar.

Grafik (Chart)
Pemakaian grafik atau chart adalah hal yang paling penting dalam analisis teknikal karena satu-satunya objek analisa teknikal adalah pergerakan harga yang dapat dilihat dari chart.
Beberapa jenis chart yang sering dipakai dalam analisis teknikal adalah sebagai berikut:

Garis Trend (Trend Line)

Trend atau kecenderungan pergerakan dalam satu arah harga adalah salah satu istilah penting dalam melakukan analisis teknikal karena pada dasarnya analisis teknikal sendiri dikembangkan atas sebuah asumsi dasar yaitu harga bergerak dalam sebuah kecenderungan (trend) itu sendiri.
Secara sederhana, garis trend (trend line) adalah sebuah garis yang menghubungkan sedikitnya 2 titik harga atau lebih dan kemudian diperpanjang hingga beberapa periode ke depan.


Secara garis besar garis trend dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
  1. Trend meningkat /up trend (Bullish Market).
  2. Trend menurun/down trend (Bearish Market).
  3. Trend mendatar/horizontal trend (Sideways/Consolidation).

Support & Resistance

Support dan Resistance merupakan istilah penting dalam analisa teknikal yang berfungsi untuk mengindikasikan batas atas maupun batas bawah dari pergerakan harga.

Support adalah merupakan batas bawah/range di mana pada titik/range harga tersebut akan timbul minat beli yang lebih kuat dari pada minat jual. Kondisi ini secara otomatis mengakibatkan terjadinya kelebihan permintaan yang akan meningkatkan harga di pasar sehingga menghentikan trend penurunan harga.

Resistance adalah merupakan batas atas/range di mana pada titik/range harga tersebut akan timbul penguatan minat jual yang lebih besar dari pada minat beli yang secara otomatis akan timbul kelebihan penawaran yang akan mengakibatkan turunnya harga di pasar sehingga menghentikan kenaikan harga.

 
Overbought & Oversold

Overbought merupakan situasi di mana pasar telah menjadi jenuh akan banyaknya permintaan sehingga permintaan semakin berkurang sementara penawaran semakin bertambah yang menyebabkan harga cenderung bergerak turun atau melemah.
Oversold merupakan situasi di mana pasar telah menjadi jenuh akan banyaknya penawaran sehingga penawaran semakin berkurang sementara permintaan semakin bertambah yang menyebabkan harga cenderung bergerak naik atau menguat.

Chart Pattern
Grafik nilai tukar mata uang mempunyai beberapa pola pergerakan yang dapat digunakan sebagai tanda perubahan suatu trend tertentu.
Pada dasarnya ada 2 golongan besar jenis pola yang mungkin terjadi yaitu:
  1. Reversal Pattern
    Pola ini menunjukkan adanya perubahan trend, misalnya harga yang bergerak dalam uptrend berubah menjadi downtrend atau sebaliknya harga yang bergerak dalam downtrend berubah menjadi uptrend.
    Reversal pattern mempunyai beberapa pola pergerakan sebagai berikut:
    a. Double Tops
    b. Double Bottoms
    c. Head and Shoulders top reversal
    d. Head and Shoulders bottom reversal
    e. Falling Wedge
    f. Rising Wedge
    g. Diamond Pattern
  2. Continuation Pattern
    Pola ini menunjukkan adanya perubahan trend sementara yang dilanjutkan dengan perubahan ke trend awal yang dominan. Misalnya harga bergerak dalam uptrend kemudian berubah menjadi downtrend (retrace) dan meneruskan lagi uptrend sebelumnya atau sebaliknya.
    Continuation pattern mempunyai beberapa pola pergerakan sebagai berikut:

    a. Bullish Flags
    b. Bearish Flags
    c. Symmetrical Triangles or Pennants
    d. Descending Triangle
    e. Ascending Triangle
    f. Cup and Saucer
Selain pola pergerakan chart seperti di atas, ada pula suatu pola unik yang disebut sebagai gap. Suatu chart membentuk gap apabila terdapat jarak atau celah antara 2 chart yang saling berdekatan yaitu jika nilai low dari chart sebelumnya lebih tinggi dari nilai high pada chart berikutnya atau sebaliknya atau jika nilai high dari chart sebelumnya lebih rendah dari low pada chart berikutnya.

Ada 3 bentuk utama dari gap yaitu:
a. Breakaway gap
b. Measuring gap
c. Exhausting gap

Indikator Teknikal
Indikator merupakan alat bantu utama yang digunakan dalam analisa chart. Secara garis besar ada 3 jenis indikator yaitu:
  1. Price Momentum Indicator (Oscillator)
    Jenis indikator ini digunakan untuk mengidentifikasi situasi oversold atau overbought. Momentum indikator juga digunakan untuk melihat apakah suatu trend masih akan berlanjut atau semakin melemah.
    Contoh indikator:
    • Stochastic Oscillator
    • Relative Strength Index (RSI)
    • CommodityChannel Index (CCI)
  2. Trend Following Indicator
    Indikator ini digunakan untuk mengidentifikasi awal dan akhir suatu trend atau kapan suatu trend akan berubah sehingga dapat diketahui kapan waktu terbaik untuk membuka dan menutup posisi.Contoh indikator:
    • Moving Average (MA)
    • Moving Average Convergence
    • Divergence (MACD)
  3. Directional Movements Index (DMI)
    • Parabolic SAR
  4. Volatility Indicator
    Indikator ini digunakan untuk melihat kekuatan pasar yang dilihat dari fluktuasi harga dalam satu periode waktu tertentu. Pasar dikatakan memiliki volatility yang tinggi jika pergerakan harga berlangsung naik turun secara tajam atau sangat fluktuatif di mana terjadi selisih harga yang besar antara harga tertinggi dan terendah.

Tentang InstaForex


Campus  Forex

 
Solutions For Proffesional Trader

InstaForex didirikan pada tahun 2007 yang berkedudukan di 30 Teatralnaya, offices 402, 501, 516, 236022, Kaliningrad, Russia. InstaForex.com adalah milik InstaForex Companies Group, yang memberikan layanan online-trading ke pelanggan-pelanggan di dunia sejak tahun 2007.
InstaForex Merupakan Anggota Kelompok Grup Perusahaan Perusahaan Investasi InstaTrade InstaForex (terdaftar di Federasi Rusia), memiliki lisensi pada Brokerage, Dealing dan Capital Managemen dikeluarkan untuk "InstaTrade Investasi Perusahaan" Ltd (Federasi Rusia) pada November 2008 oleh The Federal Financial Markets Service. Nomor Lisensi pada Brokerage, Dealing and Capital Management Services adalah: 077-11737-100000, 077-11739-010000, 077-11741-001000.

Instaforex mendapatkan penghargaan Word Finance Awards 2009 dan ShowFx Asia 2009 sebagai best broker (broker terbaik) di Asia serta ShowFx Word 2009 sebagai broker terbaik di Rusia.
Perusahaan klien kami telah memilih platform trading terkemuka - MetaTrader 4, yang memenuhi tuntutan kualitas layanan modern dan dianggap sebagai salah satu dari produk terkemuka di bidang internet-trading. Dan para senior analisyt kami bekerja dengan market-maker terkemuka untuk mengambil posisi net di dalam pasar interbank. Hal ini memungkinkan kami terus menerus bekerja dengan klien, yang berarti bahwa ketika anda menggunakan layanan kami, Anda bisa yakin bahwa anda tidak sedang berjudi, tetapi menghasilkan uang dari nilai tukar mata uang.
Mulailah karir anda sendiri sebagai trader mata uang profesional, dengan therm trading yang cocok dengan strategi trading anda.

Salam Sukses,

Surasa Wijana SE

Trading Forex carries a high level of risk and may not be suitable for all investors. There is a possibility that you could sustain a loss of all of your investment and therefore you should not invest money that you cannot afford to lose. You should be aware of all the risks associated with Foreign Exchange Online Trading